Header Ads

test

Dasar Pemikiran Buku Negara yang Sebenarnya

Pengarang : Benny E. Matindas

Negara adalah organisme. Tetapi bukan makhluk hidup yang berwujud manusia, meski ia bergerak hanya oleh manusia. Negara adalah makhluk yang bertumbuh sangat ganjil, yang dengan sangat jahatnya memangsa segala-gala. Dengan naluri purba namun dengan kekuatan dan kelicikan yang jauh melampaui monster mengerikan hasil ciptaan teknologi manapun, ia memangsa manusia dalam jumlah yang paling banyak, bahkan melumat lingkungan hidup segenap makhluk dalam biosfir ini.

Mengapa negara bukan organisme yang lebih mirip manusia dan terus berkembang kemanusiawiannya seiring perkembangan manusia? Bukankah negara adalah organisasi manusia dan yang menjalankan atau menghidupkannya pun adalah manusia? Negara memang adalah makhluk yang berasal dari manusia, tetapi sejak dulunya dan terus-menerus nyaris untuk selamanya manusia berkembang dengan tidak mengembangkan negara sebagaimana seharusnya negara manusia. Maka negara menjadi makhluk yang menjalani evolusinya sendiri.

Manusia memberikannya hidup dan bertumbuh dari memakan sebanyak-banyaknya manusia serta kemanusiaan dan menghirup darah serta airmata rakyat manusia sebanyak-banyaknya. Baik rakyat warga negara itu sendiri maupun warga negara-negara luar; baik nyawa mereka maupun sekadar hak-hak dan kesempatan untuk kebahagiaan penuh. Negara adalah makhluk pemakan manusia yang sudah lebih sering tak lagi bergerak dalam kendali dan pengorganisasian manusia. Ia adalah raksasa pemangsa yang tidak sedikitpun tak haus darah.

Dan sejarah umat manusia adalah upaya mati-matian dan tanpa bermalu memperebutkan posisi paling aman di hadapan taring-taring dan cakar sang monster pemangsa, bahkan sering dendam yang terlanjur tumbuh dari sengketa-sengketa perebutan status atau posisi antar sesama telah mendorong sejumlah orang untuk kemudian berusaha menggiring atau memanfaatkan kekuasaan besar negara untuk memangsa sesama mereka manusia. Sangat banyak anak manusia yang sudah jadi korban oleh dan untuk kehidupan bernegara yang konsep-konsepnya salah sepanjang beribu tahun.

Sangat banyak nyawa dan darah ditumpahkan dalam perang antar negara-bangsa, dan tak kalah banyaknya pula mereka yang dilibas kekuasaan negaranya sendiri di tangan rezim yang merasa sebagai representasi kekuasaan Tuhan atau yang merasa sebagai satu-satunya penegak kebenaran dan pembangunan. Sangat banyak manusia yang lama meranggas sebelum putus nyawa, dan yang sejak lama seblumnya sudah mati kultural, dalam sengsara kemiskinan lantaran negara dijalankan dalam tatanegara dan sistem pembangunan yang keliru. Beberapa keluarga berupaya menciptakan kehidupan senikmat disorga karena merasa memang sebagai makhluk-makhluk illahi ataupun representasi illahi untuk menata dunia melalui pelbagai negara monarkhi; di tengah berjuta-juta keluarga rakyat yang melata di rawa-rawa kemelaratan dan setiap saat gampang ditimpakan ketidakadilan.

Karena orang tuanya belum membayar uang sekolah seorang gadis kecil di Jakarta bunuh diri; tak tahan menanggung malu di antara teman-teman di kelas. Hukum antar negara yang keliru sehingga penguasa-penguasa negara telah membunuh manusia tanpa dihukum berdasarkan hukum nasional dan hukum agama; tak dihukum hanya karena jumlahyang dibunuh sangat banyak dan laku kriminal tersebut dianggap tindakan politik yang disebut "perang".

Ribuan perang antar negara sudah dilansungkan demi segala kepentingan, dan pada setiapnya ide Nasionalisme sudah berperan besar membesarkan kobaran api. Perang demi memperluas wilayah sumber ekonomi, perang demi kehormatan bangsa, perang demi kejayaan bangsa. Adalanya berlanjut dengan perang yang dilakonkan seperti pesta bersama oleh banyak negara, sampai perang dunia yang bahkan hendak dibikin serial tanpa akhir. Bermacam-macam alasannya. Berjuta-juta keluarga harus kehilangan putranya. Berjuta-juta anak kehilangan ayahnya. Sistem pembangunan keliru yang dijalankan oleh negara telah membuahkan ketimpangan yang lebar, seglintir warga telah menikmati hasil pembangunan ekonomi yang membawa mereka ke dalam kehidupan modern ditegah rakyat kebanyakan yang masih hidup dalam taraf sangat rendah dan yang tampak tak manusiawi atau mirip kotoran yang melekat di baju modernitas. Kotoran yang harus dibasmi.

Maka dalam pembasmian itu, seorang tukang becak bernama Sukardal telah menggantung diri karena alat satu-satunya untuk mencari nafkah keluarganya, yaitu becak, disita petugas negara yang sedang membangun moderintas serta ketertiban kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Di Sulawesi Tegah, ditegah ibukota Palu, ditegah kemajuan dari hasil-hasil pembangunan yang menakjubkan selama belasan tahun Orde Baru, di tegah terik matahari khatulistiwa, Tombolotutu adalah sebuah dusun ranggas namun tampak teduh oleh budaya bisu dari mereka yang tersisi atau yang tak terangkut kereta pembangunan dan pemberadaban; tiga anak gadis kurus ringkih bersama ibu mereka duduk dekat pintu dengan mata memandang keluar dan dengan pandangan tanpa keinginan dan harapan; pati itu mereka bukan anak-anak gadis yang melenggang di plaza-plaza gemerlap atau sedang kursus komputer, mereka bahkan tidak tercatat sebagai murid sekolah, mereka bahkan tidak sedang memasak dengan riang sebab tak ada yang bisa dibeli.

Dua puluh tahun berikutnya pemandangan yang sama, atau lebih mengerikan lagi, dijumpai di Jayapura, Genyem, Manokwari, dan sangat banyak lagi di Papua-negeri yang kendati kekayaan alamnya setiap hari memberi kemewahan dan kemajuan hidup sangat jauh bagi semunlah orang hingga di negeri yang jauh. Negara tak menjalankan politik ekonomi pemenuhan kebutuhan pokok rakyat secara sosialistik, setiap orang harus terkuras tenaga dan waktunya hanya untuk memenuhi sendiri kebutuhan dasar keluarganya; cinta yang semula sangat indah bergairah antara para wanita dan pria muda harus menjadi hambar, sering harus dihiasi laku kekerasan, ditengah perjuangan suvivalitas yang sering tanpa arah jelas (-berbeda dan justru kalah jelas dengan cara binatang berupaya mempertahankan hidup di tengah alam bebas atau state of nature). Sistem politik yang salah di semua negara sudah memakan sangat banyak korban warga sendiri.

Pertarungan merebut kekuasaan yang tanpa mekanisme yang benar dan aman. Perjuangan warga di daerah-daerah yang merasa mengalami ketidakadilan oleh pemerintah pusat; di Indonesia, orang-orang Aceh dan Minahasa telah digilas mesin-mesin kekuasaan negara ketika harus memberontak. Para pemuda dan kepala rumah tangga tewas secara nyaris tanpa harga, sering tanpa boleh ditangisi istri dan anak-anak mereka. Para pemudi dan ibu-ibu rumah tangga dipaksa atau harus tergiring oleh situasi untuk melayani nafsu seks para tentara negara yang seolah memang berhak menginjak-injak apa saja: adat, cinta, kehoramatan, bahkan nyawa orang lain. Konflik antara suku dan ras di dalam sejumlah negara tidak ditanggulangi secara benar dan adil oleh aparat negara maupun tata dunia. Di Rwanda Afrika.

Di Bosnia dan Kosovo. Di Palestina. Di Kalimantan, Indonesia, bhakan di ibukota Jakarta, manusia di abad modern telah mengambil kesempatan untuk memiliki pengalaman luarbiasa yakni mempermainkan mayat sesama manusia yang mereka bunuh. Kepala yang dipenggal dan dijadikan pajangan dengan segala hiasan yang dibuat lucu-lucu. Pelbagai ideologi politik sudah jadi amanat etika suci yang mengabsahkan pembantaian sesama manusia yang dianggap penghalang jalannya pembentukan surga di atas bumi. Rasisme Nazi Jerman harus menghilangkan nyawa dari berjuta-juta orang hanya sebab orang-orang ini Yahudi; rezim komunisme di Cina harus membunuh warganya sendiri dua kali lebihbanyak daripada Yahudi yang dibuhuh itu; sejumlah student sudah dilumat oleh masin-mesin kekuasaan di Lapangan Tiannamen; rezim Khmer Merah dengan riangnya mencabut nyawa jutaan warga Kamboja.

Sebaliknya komunisme di Indonesia harus dipunahkan dengan cara menghabisi semua nyawa manusia yang dicatat sebagai anggota partai komunis; sejumlah buruh tani orang Sangir di Manado yang sepanjang hidupnya sudah sangat menderita dalam kemiskinan telah dianiaya sampai mati dengan sangat gampangnya dan tanpa ditangisi oleh bahkan hati mereka sendiri saat meregang nyawa; sobat kental saya semasa kecil, Pit Rumambi, seakan tak cukup dengan kehilangan dua orang tunya, ia yang padahal pintar ini pun harus berhenti sekolah dan pergi tinggal di kebun yang jauh di luar kampung neneknya di Tondano, karena Pit yang masih siswa sekolah dasar ini ketakutan dan malu dihina sebagai "PKI". Ada pula teman bernama Robin Suak. Ayahnya sempat ditahan dan disiksa sebab dituding sebagai anggota PKI; tetapi tak lama, karena dihidung Cuma orang kecil bodoh yang ikut-ikutan saja. Mereka lalu bikin gubuk di lereng bukit di kampung kami. Suatu hari Robin kecil ditangkap orang sekampung karena dituding mencuri. Ia didudukan di sebuah kursi untuk dimaki-maki sampbil terus-menerus dipukuli orang-orang besar dan kecil.

Robin hanya diam, tangisnya hampir tak kedengaran. Ia memang anak pendiam. Seseorang menudut telapak tangan kesilnya dengan api rokok, Robin tampak meringis kesakitan tapi tetap tanpa suara keilnya. Ayahnya datang dan tak mungkin sanggup jadi pembela anaknya sendiri; ia malah menghardik anaknya dengan suara paling keras yang terdengar seperti erangan yang keluar dari jiwanya yang sangat pedih terluka. Dari sela-sela tubuh orang-orang yang berkerumun, saya terus mengintip dan melihati wajah Robin.

Senja itu makin gelap, matku yang beberapa kali menitikkan air mata tak terlihat orang. Saya tidak membela Robin, tidak bisa mencari Pit selama puluhan tahun, saya tidak berbuat apa-apa dan hanya berdiri dari luar pagar kawat berduri saat menyaksikan para "tapol" yang Cuma buruh tani miskin dan penyakitan itu disesak habis-habisan. Berjuta-juta orang telah menjadi korban dalam sistem politik totalitersime ataupun militerisme yang memaksakan tata kehidupan yang dianggap ideal. Tetapi sama banyak pula mereka yang jadi korban dalam sistem demokrasi yang kebebasannya sangat sering harus meluncur jadi anarkhi. Dan dalam skala waktu yang panjang, baik sistem totaliterisme maupun demokrasi itu, sudah dan terus menelan korban dalam perjalanan sejarah yang hanya dilangsungkan sebagai upaya "try and error" belaka.

Negara-negara telah menjadi alat dari penghayatan kehidupan beragama yang keliru. Pembantaian, intimidasi, pengusiran, pengasingan, intoleransi dan ketidakadilan, yang dilancarkan dengan menggunakan kekuasaan negara, sudah menimpa begitu banyak manusia. Perang antar bangsa berbeda agama telah menumbuhkan dendam; termasuk dendam yang tak sanggup diungkapkan melalui perang terbuka sehingga memilih jalur terorisme.

Hanya dalam beberapa menit, ribuan manusia yang hancur dalam kehancuran dua gedung Word Trade Center di New York, AS. Sejumlah perjuangan yang selanjutnya dikutuk sebagai teroris, tanpa bisa dicegah telah memberi nyawanya demi penghancuran itu. Beberapa negara termaju, yang sangat menghargai nyawa manusia dan sekadar nilai kemanusiaan, masih harus merelakan kematian pemuda-pemuda berbakat yang sangat dicintai keluarga-keluarga mereka melalui kematian yang malahan hanya berlangsung sebagai proses administratif rutin belaka. Mereka adalah pemuda-pemuda baru mekar di Amerika Serikat dan negara termaju lainnya yang mengikuti dinas wajib militer dan dikirim untuk menegakkan demokrasi dan hak-hak azazi manusia di Vietnam, Korea, Somalia, Afghanistan, Irak, di mana-mana.

Wajah-wajah mereka di media massa sudah menjadi pertunjukan yang tanpa keindahan bahkan keterharusan sedikitpun-kendati mereka seharusnya penuh makna kemanusiaan dan pengorbanannya sangat indah-karena nyawa mereka melayang bersama lebih banyak lagi nyawa kaum pribumi yang nilainya seakan lebih di bawah lagi. Mereka semua telah menjadi korban, atau yang berkorban, juga semua mereka yang telah melakukan dosa tanpa mengetahui apa yang dilakukannya atau karena harus tergiring melakukannya lantaran sistem politik dan negara yang salah, untuk mereka semualah buku NEGARA yang SEBENARNYA didedikasikan.

No comments:

Powered by Blogger.